Ini Aksiku, Mana Aksimu? | Ayo #TolakUN

Lompat Galah kecil

Republik ini dibangun oleh orang-orang berani dan peduli

Siapa Soekarno Hatta? Apakah orang yang dirugikan oleh sistem penjajahan? Tidak! Mereka menikmati buah manis pendidikan Belanda

Siapa Tan Malaka & Ki Hadjar Dewantara? Apakah orang yang disingkirkan oleh sistem penjajahan? Tidak! Mereka dibesarkan oleh pendidikan Belanda

Tapi mengapa mereka tidak menikmati saja kemapanan pada jamannya? Tapi mengapa mereka tidak memilih hidup mewah menikmati manisnya hidup?

Karena mereka peduli! Mereka peduli pada orang-orang di sekitarnya yang tertindas. Mereka memilih jadi berani menunjukkan kepeduliannya.

Pilihan mereka dan ribuan pejuang lainnya yang menjadi pembeda. Pilihan yang melahirkan perbedaan nasib mereka dan seluruh bangsa Indonesia

Bukan sekedar kecerdasan yang membuat bangsa ini merdeka. Bukan hanya kekayaan yang membuat bangsa ini sejahtera. Kemerdekaan dan kesejahteraan bangsa ini lahir dari pilihan untuk peduli dan berani

Tersebutlah teman kita, Nurmillaty Abadiah, sekian waktu memendam keresahan melihat praktek joki yang sistematis. Keresahan itu pecah ketika menemui kualitas soal Ujian Nasional yang tidak tepat, diluar materi belajarnya. Ia pun menulis Surat Terbuka Untuk Bapak Menteri Pendidikan.

Apa jawaban Menteri Pendidikan? “Mustahil surat itu ditulis oleh pelajar SMA”. Bukannya menanggapi pesan penting dalam surat tersebut, Pak Menteri justru meragukannya! Tidak percaya pada produk sistem pendidikan yang dipimpinnya sendiri.

Apakah benar tuduhan Pak Menteri? Sama sekali keliru! Nurmillaty Abadiah adalah pelajar SMA Khadijah Surabaya dan benar dialah yang menulis surat terbuka itu.

Siapa Nurmillaty Abadiah? Apakah dia seorang pelajar yang malas belajar? Apakah dia seorang pelajar yang suka mengeluh? Apakah dia seorang pelajar yang bodoh?

Tidak! Ia bukan pelajar yang malas belajar, justru pelajar yang berprestasi. Ia bukan menuangkan keluhan di surat terbukanya, tapi gugatan yang menghujam pada sistem penilaian bernama Ujian Nasional. Bodoh? Ia adalah anggota tim Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan peraih medali perak di tingkat internasional.

Nurmillaty Abadiah menulis Surat Terbuka itu karena memilih untuk peduli pada teman-temannya. Ia memilih untuk berani mengungkapkan kebobrokan Ujian Nasional. Ia peduli dan berani!

Dan sebagaimana pesan sejarah bangsa Indonesia, kemerdekaan dan kesejahteraan ditentukan oleh orang-orang yang peduli dan berani! Nurmillaty Abadiah menunjukkan sikap peduli dan berani, sikap yang membuat terang kegelapan Ujian Nasional yang selama ini ditutupi dari mata masyarakat.

Tapi teman, ini barulah permulaan perjuangan. Nurmillaty Abadiah sudah menunjukkan aksinya, menyusul aksi para pejuang #TolakUN sebelumnya seperti Abrar, Alif dan Bu Siami, Kepala Sekolah di Tuban, Pengawas di Blora, serta banyak lagi. (Baca lengkapnya di Kesaksian)

Kita harus terus bergerak untuk mengoyak kelamnya Ujian Nasional yang membodohkan. Kita harus terus beraksi untuk membongkar busuknya Ujian Nasional yang menyeragamkan anak-anak Indonesia. Tunjukkan pada semua orang, semakin banyak orang tahu dan peduli, semakin cepat perubahan terjadi.

Nurmillaty Abadiah sudah beraksi. Mari temani dengan aksi-aksi sebagai bentuk sikap peduli dan berani. Apa saja yang bisa dilakukan? Ini bukan Ujian Nasional! Silahkan pilih dan lakukan aksi yang sesuai passion atau bakat kamu.

  1. Sebarkan pesan ini atau pesan lain di situs TolakUjianNasional.com
  2. Beritahu teman, idola kamu atau orang berpengaruh mengenai gerakan Tolak Ujian Nasional #TolakUN 
  3. Tandatangani petisi #TolakUN dan sebarkan melalui media sosial. 
  4. Membuat karya seni (puisi, lagu, karikatur, meme dll) untuk menyebarkan pesan #TolakUN. Kirim ke TolakUjianNasional@gmail.com
  5. Menulis kesaksian mengenai dampak negatif Ujian Nasional. Kirim ke TolakUjianNasional@gmail.com. 

Kamu juga boleh menciptakan aksi #TolakUN versi kamu sendiri ! Setiap aksi #TolakUN itu penting dan bermakna. Jangan meremehkan diri sendiri. Peristiwa besar diawali oleh aksi kecil yang seringkali diremehkan banyak orang. Lakukan aksi, dan katakan dengan bangga pada temanmu, “Ini Aksiku, Mana Aksimu?”

Apabila usul murid ditolak tanpa ditimbang
Pendapat diremehkan, kritik diabaikan tanpa alasan
Surat dituduh tidak asli dan hanya berniat mengganggu
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Kategori Situs TolakUjianNasional.com
1. Kesaksian Tolak Ujian Nasional
2. Artikel atau ulasan ahli tentang Tolak Ujian Nasional
3. Tokoh atau Lembaga yang Mendukung Tolak Ujian Nasional
4. Gerakan yang Melakukan Tolak Ujian Nasional
5. Karya tentang Tolak Ujian Nasional

Pejuang baru? Masih ragu untuk #TolakUN? Baca Tanya-Jawab Ujian Nasional

Poster Surat Terbuka 2

 

34 thoughts on “Ini Aksiku, Mana Aksimu? | Ayo #TolakUN

  1. Selamat sore mas/mbak Admin….
    Kenalin nama saya Arkan, lagi pertukaran pelajar d Ceko setahun.
    Hari minggu ini saya bakal ikutan Maraton di Praha, nah tiba2 kepikiran nih.
    Orang2 kalo Maraton Ada Yang emang buat lomba, Ada juga Yang buat charity events nyari donasi or publikasi event social ato semacamnya gitu.

    Nah Ada ide nih, kenapa gak kita bikin beberapa poster soal quote2 soal #TolakUN , nah nanti pas saya finish, di foto, di sebar di socmed.
    Soalnya saya kesentuh jg ngeliat temen2 angkatan saya Yang UN di Indonesia sana….

    Emang saatnya untuk #TolakUN

    Dan jangan lupa mas/mbak, sebar2in dulu ke teman2 followers, di Twitter di FB di Path segala macem, biar kita bikin ini bener2 VIRAL, bener2 bikin Mndikbud kaget.

    Bahkan anak Yang gak UN ky temen2ny di Indonesia aja peduli. :)

  2. Agus Priyanto berkata:

    Ketika pemertaan infrastruktur pendidikan, spt tenaga pendidikan yg memiliki kualitas merata, bangunan sekolah layak, buku memadai dan menunjang kegiatan belajar, serta sara pendukung lainnya tidak merata; bagaimana mungkin kita berharap hasil yang sama dalam UN. Ujian Nasional, menurut saya bukan soal penolakan atas istilah UN (yang selama ini berganti2 istilahnya), namun lebih dari itu bahwa penolakan kita thd UN karena konsep UN yg ada selama ini tak lebih dari upaya pemerintah menutup tanggung jawabnya untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan nasional. Semestinya hasil dari ujian akhir disetiap sekolah dijadikan alat assesment pemerintah dalam menilai kualitas pendidikan nasional kita

  3. Abie berkata:

    Halo Admin, saya Abie Zaidannas. Mahasiswa tingkat akhir (semoga) Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada.

    Saya sepenuhnya setuju dengan ide untuk menghapus Ujian Nasional dan saya telah menolaknya sedari saya SMA dulu melalui beberapa tulisan. Ujian nasional ini adalah penghambat pendidikan yang paling utama karena di waktu-waktu akhir masa studinya di SMA peserta didik digiring untuk fokus dalam menghadapi soal-soal UN yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan sehari-hari. Bukannya mereka mendapatkan pendidikan yang dibutuhkan, mereka harus bersiap menghadapi momok yang tidak perlu ditakuti.

    Anyway, saya menawarkan diri untuk membantu kampanye admin untuk menghapus UN. Jika butuh bantuan (terutama di bidang desain grafis untuk keperluan kampanye) bisa menghubungi saya di abie.zaidannas@gmail.com terima kasih :D

      • silla berkata:

        gimana kalo ramai2 datangi prabowo minta dia tandatangani surat perjanjian tidak akan memilih mentri pendidikan dari partai koalisinya (pks). partai itu sudah 2 kali ngasih menteri pendidikan jahat era sby (sekitar 9 tahunan). kalo yg kepilih jadi presiden jokowi sih nggak masalah. masalahnya kalo yang kepilih prabowo partainya koalisi sama pks. walau katanya jokowi lebih populer tapi hasil akhir siapa yang bisa ramalkan. mendingan pilih jalan aman biar ga ada menteri pendidikan jahat dari partai itu lagi

  4. “KIta males sekolah, males belajar, tapi karena nilai, bukan karena ilmu”

    Jadi, menurut mimin kalo kita ujian terus dapet nilai, itu bukan karena ilmu?

    Jadi, mimin pikir kita dapat nilai itu karena kunci? bukan karena ilmu?

    Mimin salah. Saya sebagai pelajar yang memiliki nilai baik dengan belajar merasa terhina dengan bacaan tadi. Coba pikirin lagi deh. Kalo ita lompat galah, dilatih terus pasti bakal bisa. Kita juga gak bakal jatoh dengan bada duluan, tapi kaki duluan. Sakit? tidak! karena kita sudah berlatih dan terbiasa jadi, tidak sakit.

    Tapi coba mimin pikirkan orang belajar lompat galah, berlatih “terus-terusan” sepanjang hari. YA PASTI CAPEK LAH!.

    Jadi intinya, belajar mah santai aja. Jangan terus-terusan. Kalo terus-terusan jadi capek. Otomatis pelajaran yang kita pelajari tadi gak bakalan masuk.

    Coba kalo santai, terus bisa? Lebih enak kan?

    Kalo kata orang jawa sih ‘Alon-alon waton lakon’ artinya ‘Pelan-pelan asal bisa’. :)

    • Ya benar. Tapi apakah semua anak Indonesia mendapat fasilitas yang sama? Dapat belajar bersama dengan guru yg berkualitas sama? Apa penyebaran tenaga pendidik di Indonesia sama?

      Mimin tidak menyalahkan pola belajar anda. Tapi pikirkan nasib teman-teman kita di negeri nun jauh disana, yang akses ke sekolahnya sulit, serba keterbatasan. Apakah patut disamakan dengan kita yang ada di Kota besar?

      Gak usah jauh-jauh daerah Banten saja banyak yang tak tersentuh pendidikan.

      Mimin tidak menyalahkan pola belajar masing-masing. Mimin hanya tidak setuju dengan sistem pendidikan Indonesia.

      – Terima Kasih -

      • Maaf min, belajar itu tidak boleh hanya ingin disuapi guru saja. Usaha sendiri. Belajar Sendiri. Jangan nyari alasan karna pulau terpencil/tertinggal jadi pingin disuapin guru aja.

        Kalo banten sih, itumah bukan salah M.Nuh, Kalo mau, salahin Ratu Atut. Itumah emang salah pemerintah bantennya. Jangan salahin menteri pendidikan.

        Nah sekarang saya tanya, apakah daerah-daerah terpencil/tertinggaal itu pernah melapor ke M.nuh meminta usulan UN ditiadakan? Kalo ada, coba, saya ingin lihat. :)

        Tapi, min, di sisi lain argumen saya, saya ingin mencoba menyampaikan solusi.

        Menurut saya, UN tetap diadakan, tapi hanya untuk pulau-pulau besar saja seperti Jawa, sumatra, Kalimantan, sulawesi dll (Yang pendidikannya sudah pasti tersentuh dan terjamin. Nah, untuk daerah tertinggal lebih baik ditiadakan saja UN dan diganti dengan ujian sekolah. :)

        kalo di kota-kota besar dan “agak” besar lebih baik diadakan UN. Karena mereka sangat bergantung pada internet.

        Dan anda tahu? Facebook, Twitter, dan internet dapat menurunkan intelejensi seseorang. Sumber : Merdeka.com

        Semoga solusi saya dapat diterima. :)

        Jadi, kalo anda sudah beraksi tentang penolakan UN. Coba, saya ingin melihat solusi anda. Tulis disini!. Saya malas scroll downnya. Terlalu banyak pos dan posnya banyak membuat saya bingung.

        • yuri berkata:

          Maaf sebelumnya ^^

          UN itu bukan sekadar masalah ‘lompat galah saja’
          “siapa yg sering berlatih, pasti ia bisa”. Ah, saya tidak tahu bagaimana perasaan orang2 yg menyimpulkan masalah UN seperti itu.

          Masalah UN lebih dalam dan rumit…bukan tentang intelegensi saja…tetapi juga tentang kemanusiaan. Fatalnya…hal itu berpengaruh kepada kondisi anak-anak juga masa depan bangsa tentunya.

          Standarisasi..bagi semua murid di Indonesia.

          Bayangkan saja..

          Kita adalah batu bata yg harus distandarkan. Hahaha, emangnya siapa yg tahu kalau kita batu bata semua? Siapa itu orang-orang yang sok tahu tentang kemampuan masing-masing siswa, sampai dibuat harus ‘lulus’ standar yang parahnya standar itu adalah sama?

          Untuk membuat bangunan kokoh. Apa yang kita butuhkan? Batu bata saja?
          Tidak kan?
          Bagaimana bisa batu bata saja bisa mengokohkan sebuah rumah?

          Kita perlu semen, besi, kayu, sekop, gergaji, dan bahan-bahan serta alat-alat lainnya…

          Bagaimana jika setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda? Mungkin yang satu berkemampuan jadi batu bata, yg satunya adalah semen, yang satunya sekop?

          Adalah suatu kekonyolan jika kita diharuskan menjadi batu bata yang semuanya berstandar sama, padahal bakat kita bukanlah jadi batu bata saja. Adalah suatu kebodohan dan ketidakadilan menjadikan si semen, si kayu, dan bahan serta alat lainnya distandarkan menjadi ‘batu bata’ yang berstandar sama. Adalah suatu kejahatan membiarkan hal sia-sia tersebut terus berlanjut. Bukankah suatu manfaat jika kita menggunakan dan mengembangkan si semen dan si kayu serta bahan-bahan dan alat-alat lainnya sesuai dengan kodratnya?

          Dan untuk solusi…sepertinya ada kok^^ bahkan kamu sendiri juga punya solusi sendiri. Itu bagus, berarti kamu masih peduli kan dengan pendidikan di Indonesia ini?

          Juga…ada banyak negara maju yg sistem pendidikannya bisa kita coba untuk ditiru dan disesuaikan dengan keadaan di Indonesia. Salah satunya Negara Finlandia, pendidikannya bahkan diakui sebagai yang terbaik dan itu… tanpa ujian standarisasi. Saya membayangkan bagaimana anak-anak Finlandia belajar, bebas mengembangkan bakat dan minatnya…hah…seperti mimpi. Bahkan Pasi Sahlberg berkata ‘musuh terbesar dari kreativitas adalah standarisasi’

          Solusi itu banyak^^ Asalkan ‘kita’ mau memikirkannya dengan baik dan bijak, serta kita harus mempunyai niat dan kesungguhan. Saya yakin sebenarnya masih banyak kok solusi lain untuk pendidikan Indonesia yg lebih baik dan saya percaya itu.

          Maaf dan terima kasih^^

          • Andi berkata:

            masalahnya, anak di Indonesia itu kesadaran belajarnya masih sangat minim. Jangankan pelajar smp/ sma, saya yang udah kuliah di Perguruan Tinggi (yang katanya) ternama saja, banyak teman2 saya yang titip absen, belajar hanya kalau UTS/UAS, padahal kita2 ini jebolan sbmptn yang masuknya saja sangat susah.

            Anak di Indonesia itu motivasi belajarnya masih dari motivasi eksternal, bukan internal, ini yang susah. Kalau memang sudah tidak suka dengan sistem pendidikan di Indonesia, mungkin bisa melirik ke sistem homeschooling saja.

            • kirana berkata:

              Lalu.. mengapa ya anak-anak Indonesia tidak mempunyai semangat belajar yg tinggi?
              Bukannya sekolah itu seharusnya tempat yg “menyenangkan” bagi anak-anak untuk menuntut ilmu dan mengembangkan minat dan bakat dalam diri mereka?

              Bagaimana kalau sekolah itu kita perbaiki menjadi tempat yg menyenangkan?

              Bukan mengharuskan para anak-anak untuk mempunyai ‘kemampuan dan kecerdasan pada standar yg sama’ tetapi sebagai wadah para siswa untuk mengembangkan minat dan bakatnya? :)

              Saya gak masalah kalau semua anak-anak disuruh belajar matematika,ipa,ips dll. Tapi kenapa harus sampai distandarkan kemampuan anak-anak tersebut?
              Toh kita tau kan semua orang mempunyai bakat dan kemampuan yg berbeda-beda?

              Lagipula kalau atau bocor ngapain pindah rumah? toh bisa diperbaiki atapnya

              Kenapa kita gak berusaha untuk memperbaiki sistem pendidikan “kita” dahulu? Sebelum melirik ke yg lain? Dan saya rasa homeschooling itu hanya beberapa orang saja yg bisa menikmatinya, Anda tahu sendiri kan pendapatan orang itu berbeda-beda?

              Serta…saya rasa Homeschooling itu solusi yg merujuk pada perseorangan, sedangkan pendidikan adalah urusan kita bersama bukan?

              Yah itu opini saya..

              Maaf jika banyak kata yg tak berkenan

              Terima kasih…

        • coba dibaca lagi tulisannya mas, : katanya “belajar itu tidak boleh hanya ingin disuapi guru saja” brarti maksudnya harus mandiri kan ? Lah, ngscroll down aja kok malas toh ? :D

        • ysw berkata:

          kalo cuma beberapa daerah doang itu namanya udah bkn ujian nasional LOL,,, namanya aja ujian Nasional kalau ujian cuma beberapa daerah aja namanya udah bukan ujian nasional, terus lu bilang kalimantan?? lu gak tau ya kehidupan kalimantan kaya gimana? disini apa” mahal, semua serba susah, gaji 10jtan bisa abis cuma buat kebutuhan sandang pangan papan, apalagi buat beli buku” sama sekolah, gak bakal cukup,, terus sarana dan prasarana disini masih terbelakang, gak ada spbu,, kami bensin 1 liter 12ribu, terus kalo mau belanja makanan itu harus naik elf sampe berjam jam, terus mahal pula, rokok aja disini puku rata 20rb, anjiiiiinggg

  5. Aldo berkata:

    lah kalo pulau2 besar ga ada UN yang ada cuma pulau kecil doang, anh terus yang pulau2 kecil pada iri dan semua pindah kepulau besar yang “pendidikanya terjamin” biar ga ikut UN

  6. belajar itu saya ibaratkan seperti makan. Kalo kita makan terus, tanpa dikeluarkan kita bisa sakit. Sama dengan belajar, kalo tidak di Keluarkan hanya belajar dan belajar akan membuat kita gila dan stres. Percuma ada UN, karena faktanya siswa hanya disuruh belajar dan belajar tidak pernah diberi kesempatan untuk mengeluarkan hasil belajarnya. Mau Ujian Praktek pun kita pasti selalu mengingat UN dan otomatis kita punya beban tersendiri, mau tidak mau kita harus belajar lagi, ngisi otak lagi. Saya berpendapat, Semakin banyak kita belajar semakin banyak pula kita untuk lupa. contoh, dari 12 pokok bahasan misalnya, palingnya banyak siswa hanya bisa memahami 5-6 pokok bahasan saja. sisanya hanya mengingat sedikit saja, keraguan yg timbul akan kata “TIDAK LULUS” pun menghantui pikiran iswa. Makasih .

    • Anna berkata:

      Bukan “karena nggak bisa nyontek karena paket ada 20″ … UN sendiri sebenarnya memang perlu diperbaiki cara kerja sistemnya, soalnya menurut saya, kurang adil kalau tingkat kelulusan hanya ditentukan oleh hasil UN, karena nggak semua orang mampu di bidang akademis [saya sendiri mengakuinya, tapi bukan berarti hanya saya yang seperti ini. Masih banyak berbakat di bidang non akademik]… Seharusnya sekolah yang menentukan kelulusan siswanya. Bahkan ada anak yang sering mendapat juara kelas namun 3x gagal UN [itu sumbernya di salah satu acara tv]…

      Trus Anda bilang di seluruh dunia ada UN, nggak semua negara kali… =D
      Finlandia nggak ada UN… Amerika, Australia, Canada, Jepang, sama Jerman juga nggak mengenal UN tuh…

      Sekian opini saya dan salam lemper =D

  7. Sepakat Tolak UN!
    Jangan kalian Rusak anak-anak kami,
    Kalau mau rusak, sono rusak aja sendiri
    Kecurangan di sekolah terstruktur, Sistematis dan Masif itulah yang kami alami
    Ntah lah kalau di sekolah lain
    Terima Kasih ‘Sudut Pandang’ Metro TV, Fifi A Yahya dan semua nara sumber
    Pak Presiden dan Pak Menteri cepatlah buka mata, buka hati
    Engkau yang punya kuasa kami hanya sampaikan apa adanya
    Tak bisa kami menghakimi, biarlah yang Kuasa meghukummu nanti

  8. Afifah nugraha berkata:

    Maaf sdr rifqi, menurut saya orang orang di daerah trpencil tidak bersuara atau berkoar2 meminta agar un ditiadakan , itu karena pola pikir mereka yg tertutup. Mereka hanya menelan mentah2 program/ kebijakam pemerintah tanpa di analisa dahulu “sebenarnya utk apa?” Atau “knp seperti ini” dan smacamnya. Mereka takut berpendapat. Orang yg cerdas adalah org yg berani mengungkapkan pendapatnya atas kebenaran dgn cara yg sopan, bukan yg bersembunyi dlm diam mencari ‘aman’. Orang2 yg memberikan pendapatnya itu orang” yg sudah siap, sudah berani menerima saran dan kritik pedas dr brbagai sisi. Pelajar bukan robot yg hanya dapat melakukan sesuatu yg diberlakukan oleh sistem. Pelajar memiliki akal. Smakin tajam akal itu akan smakin kritis, bukan mengikuti keadaan.

  9. Staf kementrian: Kita tidak bisa meniru FInlandia. | Alasannya? GAJI. Ngok! #TolakUN
    yg herannya kok hnya di sbut negra finlandia sja?kan msih ada negra yg bgus pendidikany yg bsa dtiru Indonesia.apkah jawabanny???apakaah itu jawabanya??dan itu hanya jawaban untuk melanjutkan sistem pendidikan konyol yang hanya sematawayang untuk kepentingan org dalamnya saja

  10. Reiner berkata:

    Hubungannya topik ini sama internet apaan ya? -_- baca dulu deh komennya sebelum ngasih argumen :p haha

    Admin sini udah ngasih postingan tentang petisi tolak UN dan ulasan-ulasan tentang UN. Kenapa gak dibaca dulu? Apa jgn2 udah baca tapi kgk bisa/tidak mau memahami? :p

    Lihat bro lingkungan sekitar :) jgn menilai dari diri lu sendiri doang

  11. Sebagai siswa yang melaksanakan UN, rasanya UN itu membatasi siswa untuk mempelajari bidang yang disukai. Cuma ada 4 mata pelajaran yang diujikan(Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, IPA). Gimana anak2 yang punya bakat di bidang lain yang tidak diujikan di UN? justru akan mematikan bakatnya
    #TolakUN

  12. Mas Salah berkata:

    “Dan anda tahu? Facebook, Twitter, dan internet dapat menurunkan intelejensi seseorang. Sumber : Merdeka.com”

    Anda melihat dari sisi negatifnya SAJA.
    Kalo kata Cak Lontong: MIKIR!! :D

    Ya ya, “menurunkan intelejensi si pemakai.” Itu kan kalo dipake secara ga bener. Contohnya, facebook, twitter atau sejenisnya.

    Bagaimana kalo digunakan untuk kepentingan mecari ilmu dan informasi? Tentunya sangat bermanfaat dong. Seperti mengerjakan soal prediksi online, rangkuman materi.

    Bahkan guru saya mengatakan bahwa, gunakanlah internet dengan sebaik2nya. Ada banyak soal2 prediksi, rangkuman materi dari para blogger yg baik yg bisa anda buka dan serap ilmunya.

  13. Bagaimana mungkin sebuah sistem pendidikan tak mempunyai tujuan? padahal hakikat berdirinya sebuah pendidikan adalah untuk mendidik seseorang yang awalnya salah menjadi benar, dan buruk menjadi baik. Tetapi, coba kita lihat fenomena di ‘tempat menimba ilmu’ atau istilah kerennya adalah ‘sekolah’, sangat jauh berbeda dengan segala teori dan landasan berdirinya sebuah lembaga pendidikan. Saya mencoba memaparkan kepada Anda beberapa fakta besar yang mendasari pendidikan Indonesia saat ini

    Fakta 1 : Sistem pendidikan tak mempunyai tujuan yang jelas
    Coba Anda datang kepada para pelajar kalangan SMP-SMA yang rata-rata mempunyai kepribadian yang bisa dibilang mulai dewasa, dan tanyakan kepada mereka, “Bagaimana caramu memanfaatkan ilmu yang kamu dapat di sekolah untuk kehidupan sehari-hari ?” …
    Saya jamin, hampir dari mereka semua pasti kebingungan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mungkin diantara mereka ada yang menjawab untuk mendapatkan nilai sehingga tertera di rapot dan bisa membanggakan orangtua. Kalau jawabannya seperti itu, berarti nilai dong yang bikin orangtua mereka bangga? bukan ilmu yang berguna bagi masyarakat. Padahal ilmu tidak bisa disempitkan hanya dengan apresiasi nilai yang hanya diam di atas kertas. Bagaimana mungkin seseorang mengatakan mencari ilmu tapi tidak tahu apa tujuannya mencari ilmu tersebut ? Padahal ketidaktahuaan tujuan bisa membunuh masa depan mereka.
    Perlu ditanyakan kembali tujuan berdirinya negara ini, karena sangat mustahil negara ini dikatakan cerdas jika untuk mencari ilmu saja tidak tahu tujuannya. Kalau seseorang hanya mencari ilmu tetapi tidak mengerti kegunaan ilmu tersebut, akan tertinggal jauh dengan seseorang yang mencari ilmu dan tau kegunaan ilmu tersebut. Para pelajar Indonesia butuh perbaikan pola pikir untuk lebih visioner, tidak hanya mencari ilmu untuk mendapatkan nilai, tetapi mengaplikasikan ilmu yang selama ini mereka dapatkan di sekolah dalam kehidupan bermasyarakat, itu yang terpenting.

    Fakta 2 : Sistem lebih menghargai nilai daripada sukacita belajar dan ilmu yang bermanfaat
    Terlihat jelas bahwa setiap pelajar di Indonesia dituntut untuk mendapatkan nilai yang baik dari berbagai mata pelajaran yang tidak sedikit membuat para pelajar sangat merasa tertekan hingga berujung depresi, padahal depresi sangat membahayakan mereka karena dapat mematikan kreativitas, dan nyatanya tidak semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah mampu diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat oleh mereka.

    Fakta 3 : Sistem tak menghargai pikiran kritis yang menentang aturan
    Inilah yang mengakibatkan Indonesia sulit untuk berkembang. Berbagai pikiran kritis mengenai aturan yang berlaku di Indonesia seringkali tak digubris. Mereka para pembuat aturan seakan tak butuh nasihat untuk perbaikan, tetapi butuh uang untuk pergerakan.
    Contoh yang terjadi di lingkungan sekolah adalah adanya golongan pelajar yang menentang pelaksanaan UN. Mereka beralasan jelas bahwa UN tidak membuat pendidikan bangsa Indonesia ini lebih baik, tetapi justru semakin terpuruk akibat banyaknya siswa berbuat curang yang mengakibatkan munculnya bibit-bibit jiwa koruptor. Selain itu, materi pelajaran yang dituntut oleh sistem untuk menguasai semuanya membuat beban para pelajar semakin berat, kalu saja beban para pelajar tersebut menghasilkan dampak positif tentu bukan masalah, tetapi akan menjadi masalah apabila mengakibatkan dampak negatif berupa depresi dan ilmu yang tidak pernah diterapkan.

    SOLUSI
    Dari fakta-fakta di atas, saya tidak akan pernah membiarkan Anda terjebak dalam masalah tadi, di sini saya ingin menawarkan solusi kepada Anda untuk menyelamatkan pendidikan bangsa kita. Ada tiga langkah untuk melaksanakan pendidikan secara benar :
    Langkah pertama merupakan kewajiban bagi para orangtua yang harus mendidik anaknya untuk menjadi pelajar yang berpikir cerdas dan visioner, tidak hanya memaksa dan menekan para pelajar untuk meraih apa yang ‘perusahaan’ inginkan. Setiap anak pasti ingin diperhatikan bakat dan minatnya, yang kelak akan mendapatkan manfaat yang lebih daripada tekanan yang selama ini anak-anak rasakan.
    Langkah kedua yang bisa dijadikan solusi adalah mari perjelaskan manfaat ilmu yang kita dapatkan di sekolah, jangan hanya mencari nilai yang bisa dimanipulasi dengan cara curang, mungkin mereka selamat di sekolah dengan nilai yang bagus, tetapi celaka ketika ada di masyarakat, karena dia tidak tahu manffat ilmu yang ia dapatkan di sekolah.
    Langkah ketiga, lakukan kebaikan kepada orang lain sebisa yang Anda lakukan, karena kebaikan tersebut pasti akan dilihat orang lain, dan orang lain akan mendapatkan hal yang benar dari apa yang telah Anda lakukan. Semakin sering Anda melakukan kebaikan untuk orang lain, maka Anda semakin berpartisipasi kepada negara ini untuk menuju pembangunan yang lebih baik.

  14. saya mahasiswa tingkat akhir, saya sudah berusaha memahami mengapa sejak jaman sebelum saya hingga adek adek saya kemudian menolak un. pada dasarnya kita semua punya hak untuk menuntut sesuatu untuk diperbaiki.UN mau dihapuskan atau tidak, yang dibutuhkan itu solusi. sampai saat ini, saya belum menemukan solusi seperti apa sebetulnya yang bisa membuat anak bangsa memiliki jiwa kompetitif dan minimal memiliki ilmu dasar cukup kuat setelah kami (Saya juga anak bangsa) dinyatakan lulus dari sekolah. dinyaatakan lulus dan wisuda tentunya sudah jelas dinyatakan sebagai yang terdidik dan sudah teruji. lalu bagaimana caranya menyakinkan dan memastikan bahwa pendidikan indonesia sudah meluluskan anak-anak yang “terdidik” selain dengan menguji? saya tidak pro diadakan un, ujian bisa saja dalam bentuk apapun tidak hanya un. tetapi jujur sampai saat ini saya belum bisa menemukan solusinya. bahkan tidak ada orang yang mau berobat pada dokter yang tidak memiliki lisensi, dan lisensi didapatkan dengan ujian kompetensi profesi. lalu bagaimana cara kita bisa mengetahui dan mengevaluasi apakah sistem pendidikan kita sudah cukup baik dan cara apakah yang bisa menyakinkan bahwa kita sudah betul betul meluluskan anak-anak bangsa yang sudah benar-benar berilmu? langsung lulus begitukah atau mungkin ujian sekolah sajalah sudah cukup. mohon pencerahan, dan mari berfikir bersama. terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s